Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Sabtu, 31 Desember 2011

Menelisik Jejak Adik ‘Ipar’ Susilo Bambang Yudhoyono


Jakarta – KabarNet: Hasil audit forensik Century yang dilakukan BPK semakin memperkuat adanya aliran-aliran dana Century yang tak wajar ke sejumlah orang. Bahkan, aliran dana itu juga mampir kepada HEW. HEW adalah inisial untuk Hertanto Edhie Wibowo. Dia adalah adik kandung Ani Yudhoyono. Saat ini Hartanto menjadi anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat. Di dalam dokumen audit forensik BPK dia disebut dengan inisial HEW. Selain nama HEW, juga disebut nama istrinya dengan inisial SKS. SKS adalah Satya Kumala Sari.
Dalam dokumen audit forensik yang beredar di kalangan wartawan, Jumat (23/12/2011) nama Hartanto ada dalam temuan ke 12. Hasil audit BPK Menyebut Hartanto dan Satya Kumala Sari menjadi nasabah Bank Century sejak, 01/2007.

BPK menemukan setoran tunai menyangkut HEW dan istrinya bernama SKS selama tahun 2007 sebanyak 3 kali yang besarnya Rp 452 juta, Rp 368 juta dan Rp 469 juta. Setoran tunai ini tidak pernah ada setoran fisik valasnya. Transaksi berasal dari penukaran valas ke dalam rupiah di Bank Century cabang Pondok Indah. Penyetoran tunai tanpa fisik oleh HEW dan istrinya SKS diakui oleh pegawai Bank Century cabang Pondok Indah berinisial DW dan AFR.

Disebutkan dalam dokumen itu, ada penyetoran tunai melalui aplikasi pengiriman uang atas nama Satya yang dilakukan di Bank Century cabang Pondok Indah ke rekening Hartanto di BCA Cabang Times Square di Cibubur pada 25 Januari 2007 sebesar Rp 452 juta. Selanjutnya, penyetoran dengan metode yang sama juga dilakukan pada 30 Juli 2007 sebesar Rp 368 juta, serta BII Cabang Mangga Dua pada 22 November 2007 sebesar Rp 469 juta.

Namun, dalam dokumen itu dijelaskan pula, bantahan Hartanto dan Satya terkait transaksi itu. Kepada BPK, keduanya mengaku tidak pernah melakukan penukaran valas dan penyetoran pada tanggal-tanggal tersebut melalui siapa pun ke rekening Hartanto di BII dan BCA melalui Bank Century.

Akan tetapi, BPK juga bersikukuh transaksi HEW dan SKS itu patut diduga tidak wajar. “BPK berkesimpulan, bahwa transaksi transfer dari sdr HEW dan sdri SKS di Bank Century ke rekening sdr HEW di BII dan BCA patut diduga tidak wajar. Karena AFR petugas Bank Century, menyatakan tidak pernah menerima fisik valas dari Sdr SKS dan Sdr HEW untuk ditukarkan ke rupiah. BPK belum menemukan sumber dana valas yang ditukarkan,” demikian kesimpulan BPK yang tercantum dokumen itu.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Dewan Kehormatan (DK) Amir Syamsuddin masih enggan berkomentar. Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Demokrat ini mengaku tidak mau asal komentar. Begitu juga saat ditanya ada aliran dana Bank Century kepada adik Ibu Negara Ani Yudhoyono.

“Saya ikut rapat seharian di sini jadi tidak tahu hasilnya. Sebentar saya buka internet dulu saya baca. Jangan berkomentar dulu kalau saya belum baca ujar Amir Syamsuddin usai mengikuti rapat kerja di Istana Bogor, Jumat (23/12/2011). Sebelumnya, Ketua DPR Marzuki Alie justru mempertanyakan kenapa BPK menyerahkan audit forensik kasus Century ke DPR sebelum waktu yang diberikan habis…=======

Selain itu dikabarkan bahwa BPK berhasil menemukan fakta bahwa ada aliran dana ke PT MNP sebesar Rp 100,95 miliar. PT MNP itu diduga adalah PT Media Nusa Perdana. Yaitu, sebuah perusahaan yang salah satunya membawahi koran Jurnal Nasional (Jurnas). Media yang didirikan oleh pihak-pihak yang memiliki afiliasi ke Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Berdasar laporan, dana ratusan miliar itu mengalir selama periode 2006-2009, dari SS dan SL melalui PT IMA dan PT SMS. Dua PT tersebut adalah pemegang saham PT MNP. Sebelumnya, masih berdasar laporan BPK, PT IMA dan PT SMS mendapat aliran dana dari PT SAN. Perusahaan ini sahamnya dimiliki BS dan SS (anak dari BS).

SS diduga kuat adalah Sunaryo Sampoerna. Sedangkan BS adalah Boedi Sampoerna, salah seorang nasabah terbesar Bank Century. “Namun, BPK belum menemukan hubungan antara aliran dana tersebut dengan kasus Bank Century,” ujar Hadi Poernomo.

Sekedar diketahui, Jurnal Nasional berdiri pada Juni 2006. Didirikan oleh beberapa orang yang sebelumnya sama-sama terlibat dalam Blora Center, salah satu think tank yang ikut menyiapkan SBY maju dalam Pilpres 2004. Di antaranya, Taufik Rahzen, Rully Charis Iswahyudi, dan Ramadhan Pohan. “Kami nggak ada urusan Demokrat atau bukan Demokrat, kami murni bekerja melakukan pemeriksaan sesuai aturan dan fakta,” tandas Hadi Poernomo. [KbrNet/MNTR/Rmol]

0 komentar:

Poskan Komentar