Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Senin, 24 Mei 2010

Riwayat Hidup Mbah Surip

Di sebuah kamar kontrakan di gang sempit di Kelurahan Cipayung, Jakarta Timur. Pagi masih jauh. Jarum jam baru menunjuk pukul 04.00 WIB. Sesubuh itu seorang kakek berambut gimbal sudah bangun dari tidurnya. Sudah lima tahun ia tinggal di sini bersama stafnya, Farid, 25 tahun. Tarif sewa kamar lusuh berukuran 3 x 7 meter ini cuma Rp 300 ribu sebulan.

Mbah Surip - Karikatur Selebriti Indonesia
Jangan salah. Kakek berambut gimbal ini bukan sembarang kakek. Namanya kini sohor ke seantero negeri. Tampangnya muncul hampir tiap hari di layar televisi. Dialah Mbah Surip yang kini jadi pembicaraan di mana-mana. Lagu ‘Tak Gendong” ciptaannya tiba-tiba meroket ke tangga lagu paling top, dinyanyikan mulai dari bocah sampai nenek-nenek, dan mengerek nama Mbah Surip ke puncak popularitas.

***

Hari itu sederet agenda sudah menghadang si Mbah. Jam 09.00 dia sudah harus tiba di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, untuk rekaman Ceriwis, sebuah acara televisi. Mbah Surip diundang jadi bintang tamu. Setelah itu ada pemotretan di dua tabloid. Malamnya masih ada acara di sebuah stasiun televisi yang lain.

Beres mandi, menyeruput kopi hitam, dan merokok kretek Gudang Garam Merah kesukaannya, si Mbah siap berangkat. Sambil mencangking sebuah gitar butut, ia dibonceng Farid naik sepeda motor pergi ke Kampung Artis, Cipayung, yang berjarak cuma 300 meter dari situ.

Tiba di sana, mereka langsung menuju kantor manajemen Kampung Artis. Di pelataran sebuah mobil Suzuki APV biru berplat B 8155 GX sudah menunggu, lengkap dengan sopir dan seorang asisten bernama Yoni yang disediakan Kampung Artis. “Mobil ini baru seminggu dibeli,” kata si Mbah kepada VIVAnews.

Yoni mengaku baru bekerja seminggu ini membantu Mbah Surip. Si Mbah sendiri memang baru sepekan bergabung dengan Kampung Artis—lembaga yang membantu artis-artis yang lagi naik daun untuk mengelola bisnis mereka.

”Mbah sekarang sudah dikontrak sebuah perusahaan. Mitra Mbah itu kemarin baru saja memberi rumah beserta isinya, juga mobil baru. Semua atas nama Mbah dan sudah ke notaris,” kata Mbah Surip, sembari terkekeh.

***

Pukul 07.00 mobil APV tiba di Wapres Bulungan. Perut si Mbah rupanya keroncongan. Matanya tertumbuk pada sebuah gerobak soto ayam di emper jalan. Tanpa banyak ba-bi-bu, dia langsung memesan semangkuk soto. Untuk minum, dia tidak minta air putih atau teh, tapi secangkir kopi hitam.

Setelah perut kenyang, sekarang giliran kantuk datang menyerang. Mbah Surip pun nyelonong masuk ke Wapres. Di dalam, ia menemukan sebuah pojok menarik di tempat makan lesehan. Dan langsung saja si Mbah meringkuk. Tak lama kemudian … krrrrr … krrrrr …. dengkur pun terdengar dari kerongkongannya.

Si Mbah baru terbangun dua jam kemudian ketika kru Ceriwis mulai berdatangan. Begitu melek, ia kembali memesan kopi hitam manis. Segelas besar.

***

Bulungan, Blok M, bukan tempat baru buat Mbah Surip. Sudah sejak tahun 1989 dia menggelandang dan mengamen di sini. Kala itu tak jarang dia tidur di emperan toko. Tak heran kalau ia mengenal cukup banyak pengamen yang “menginap” di Bulungan pagi itu. Di tahun itu pula dia mulai menggimbalkan rambutnya. Kata dia, model rambutnya ini diilhami Tony Rastafara, seorang musisi reggae yang sering dia temui di kawasan Bulungan ketika itu.

Sepanjang karir musiknya, Mbah Surip sudah banyak melahirkan album. Beberapa di antaranya adalah “Ijo Royo-royo” (1997), “Indonesia“ (1998), “Reformasi” (1998), “Tak Gendong” (2003) dan “Barang Baru” (2004). Album ini bukan dirilis perusahaan musik, tapi dia rekam lalu edarkan sendiri. Distribusinya bukan dari Disc Tara atau toko musik mentereng lain, tapi melalui warung dan toilet umum di seputar Blok M dan Ancol.

Baru pada April 2009, perusahaan rekaman Falcon menemukan si Mbah dan mencium bau uang di balik lagu-lagunya yang sederhana, lugu, dan kocak itu. Mereka memilih 10 lagu, termasuk “Tak Gedong” dan “Bangun Tidur”, melemparnya ke pasar, dan … BUUMMM … langsung dahsyat meledak.

Nasib Mbah Surip pun berputar haluan. Seratus delapan puluh derajat.

***

Pukul 10.00 WIB, pengambilan gambar Ceriwis dimulai. Indra Bekti, pemandu acara ini, bertanya tentang ring back tone “Tak Gendong” yang kabarnya telah diunduh sekian juta telepon genggam dan membuat Mbah Surip kaya mendadak. Diperkirakan, dari RBT itu saja, dia bakal mengantungi Rp 4,5 miliar. “Tanggapan si Mbah?” Indra bertanya, serius.

“Ha-ha-ha-ha …!” Mbah Surip malah terbahak mempertontonkan barisan giginya yang khas itu.

Penasaran, Indra bertanya lagi: mau dibelikan apa uang sebanyak itu?

“Saya mau beli helikopter seken (maksudnya second hand),” kata si Mbah sekenanya, masih sembari terbahak.

***

Sebelum pengambilan gambar di area sebuah lampu merah, seorang pemilik warung makan di dekat situ datang menghampiri. Ia pun menggamit tangan si Mbah, mengajak masuk ke warung, dan mempersilakannya makan minum apa saja. Si Mbah lagi-lagi meminta segelas besar kopi hitam manis.

Pagi itu Mbah Surip mengenakan kaus panjang bergaris merah. Ia membawa tas ransel yang memiliki dua kantung di sisi kiri kanannya. Kantung kanan penuh dengan uang seribuan. Yang kiri diisi rokok, korek api, dan segepok uang Rp 50 ribuan di dalam amplop putih.

Seorang perempuan peminta-minta masuk. Sontak si Mbah merogoh kantung kiri. Ia mencabut selembar Rp 50 ribu, lalu ia sisipkan ke tangan si pengemis sembari berbisik: “Sudah, aktingmu sudah bagus. Sekarang pulang sana.”

Selama berada di warung itu, sebagaimana disaksikan VIVAnews, empat pengamen dan pengemis masuk dan empat kali itu pula si Mbah spontan merogoh kantung kiri ranselnya. Semua sama, masing-masing dibaginya Rp 50 ribu. Saat ditanya alasannya, si Mbah bilang hanya ingin berbagi rizki. Uang di amplop itu rupanya honor dia menjadi bintang tamu Ceriwis.

Pukul 12.00 WIB, syuting selesai. Si Mbah sudah ditunggu untuk pemotretan di sebuah tabloid di kawasan Kedoya Barat, Jakarta Barat. APV baru itu kembali bergerak. Mbah Surip duduk di sebelah pengemudi. Ia menyulut sebatang rokok kretek. Kaca mobil dia buka lebar-lebar.

Dan kita pun melihat sebuah bukti dari popularitas sang mantan pengamen. Melihat kakek berambut gimbal ini, orang di tepi jalan, pengendara mobil yang melintas, tua muda, remaja sampai kakek-nenek, kontan melambaikan tangan sembari meneriakkan namanya.

“Ha-ha-ha-ha …!!!” Mbah Surip terbahak, sembari membalas lambaian fansnya.

Pukul 13.00 WIB Mbah Surip tiba di kantor sebuah tabloid remaja. Kali ini dia harus mejeng bareng kelompok band Kuburan. Sejam setengah kemudian sesi pemotretan selesai. Si Mbah harus buru-buru meluncur ke kantor tabloid yang lain, juga untuk keperluan pemotretan. Tapi kepergiannya tertahan. Wartawan dan staf tabloid itu bergiliran minta foto bareng.

Si Mbah meladeninya dengan ramah. “Ha-ha-ha-ha …!!!” Bahaknya yang khas tak pernah ketinggalan.

***

Pada biodatanya, tertulis penyanyi nyentrik ini lahir di Mojokerto, pada 6 Mei 1969. Ini rupanya tahun kelahiran menurut KTP. Sejatinya, dia lahir 20 tahun lebih dulu, di tahun 1949. Dengan kata lain, umurnya kini sudah 60 tahun.
Latar belakangnya tak pernah jelas benar. Kepada VIVAnews, dia mengaku bekerja di bidang perminyakan saat muda dulu. Sejak tahun 1976 sampai 1986, katanya.

Pernah kuliah? Bukan pernah lagi, tak tanggung-tanggung ia mengaku kuliah di tiga universitas sekaligus! Salah satunya di Universitas Petra, Surabaya. Lebih ajaib lagi, kata dia ketiga-tiganya lulus. Percaya atau tidak, kami serahkan menurut kepercayaan Anda masing-masing.

Bagaimana dengan anak istrinya? Sejumlah data di Internet menunjukkan si Mbah merupakan ayah dari empat anak dan kakek empat cucu. Istrinya dikabarkan telah dia ceraikan. Benarkah? “Sudah, jangan tanya-tanya soal itu,” Dia terkesan malas diajak bicara tentang hal yang satu ini.

***

Di atas APV, si Mbah kembali diserang kantuk. Ia memundurkan kursi depan dan tak lama kemudian kembali terlelap. Menurut Farid, sebelum ada APV ini, ke mana-mana dia dan Mbah Surip selalu naik sepeda motor.

Pukul 15.20, Mbah Surip dibangunkan. Mereka tiba di sebuah kantor tabloid di kawasan Kuningan. Sama seperti sebelumnya, di sini pun sang kakek disambut layaknya seorang bintang besar. Puluhan wartawan dan karyawan berebut berfoto bersama.

Pukul 16.40 mobil si Mbah bergerak lagi ke Taman Mini Indonesia Indah. Ada jadwal pengambilan gambar di sebuah stasiun televisi yang lain. Tapi mereka datang terlalu dini. Acara sedianya baru akan dimulai pukul 21.00 nanti.

Kesempatan itu digunakan Mbah Surip untuk berbelanja baju dan celana dulu. Maklum, katanya, dia tak sempat mencuci baju. Tiba di mal heboh kembali terjadi. Begitu si Mbah keluar dari mobil, ratusan orang langsung merubung, minta berfoto bersama. Tak satu pun yang ditampik. Si Mbah meladeni penggemarnya satu-persatu, sembari terus menyeringai lebar.

Farid yang pergi berbelanja. Dia memilihkan tiga potong kaus lengan panjang dan tiga celana jins buat bossnya. Mereknya sembarang saja. Toh si Mbah tak perduli Burberry atau Louis Vitton. Harganya semua cuma Rp 930 ribu.

Usai berbelanja, mereka mampir di sebuah pom bensin. Di toilet umum si Mbah cuci muka. Dengan cuek, ia ganti baju di dalam mobil dengan kaus yang baru dibeli Farid seharga 85 ribu perak. Si Mbah lalu mengambil kolonye dari tasnya dan ia teteskan ke rambutnya. Pfiuhhhh… Bau tajam langsung menyengat.

Mau tahu sebuah rahasia? Si Mbah selama ini rupanya mengkeramasi rambut gimbalnya tidak dengan sembarang shampo. Yang digunakannya, kata Farid, adalah shampo khusus buat kucing Anggora.

***

Sekitar pukul 19.00, APV biru bergerak kembali ke stasiun TV. Sampai mereka di studio, pengambilan gambar ternyata baru digelar satu jam lagi.

Tak berapa lama, Farid dan sejumlah kru celingukan. Mereka mencari-cari si Mbah yang tiba-tiba menghilang.

Eh … walah, yang dicari rupanya sedang tengkurap di atas sebuah meja … lagi ngorok pulas kembali.

Geger kembali muncul sesaat syuting dimulai. Tiba-tiba Mbah Surip pingsan di atas panggung. Seluruh kru panik. Mbah Surip buru-buru didudukkan di kursi. Untunglah, sebelum jeda iklan berakhir, si Mbah sudah segar kembali. Dari bisik-bisik di kalangan awak TV, rupanya adegan semaput itu sudah diskenariokan untuk membetot perhatian penonton.

Pukul 22.00 pengambalian gambar selesai. APV meluncur balik ke Kampung Artis. Tiba di sana, mobil diparkir dan si Mbah kembali dibonceng Farid naik sepeda motor, pulang ke kamar kontrakan lusuh mereka.

“Ha-ha-ha-ha… I love you full!”

0 komentar:

Poskan Komentar