Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Sabtu, 08 September 2012

Mencari Keadilan Indra Azwan Jalan Kaki Malang-Mekkah


Indra Azwan (53) kembali melakukan perjalanan menuju istana kepresidenan di Jakarta. Bukan dengan mobil, kereta, apalagi pesawat, Indra menuju Jakarta dari tempatnya, Malang, dengan berjalan kaki.
Bapak dari empat anak ini nekat menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk menuntut janji Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam mengusut kasus kematian anaknya. Indra menyebut, pada 1993 lalu, putranya, yakni Rizki Andika, tewas ditabrak oknum polisi.
Namun hingga 19 tahun peristiwa naas itu terjadi, Indra belum mendapat keadilan. “Semua omong kosong, perkataan presiden pun omong kosong, sampai sekarang tidak ada kejelasan,” ujarnya saat sedang beristirahat di Kawasan Simpang Lima, Semarang, Rabu (29/2).
Pria asal Malang ini menuding keadilan di Indonesia tidaklah berpihak pada rakyat kecil. “Hanya orang-orang kecil saja yang menjadi korban, sedangkan orang-orang yang di atas tak tersentuh hukum,” ucapnya geram. Indra menuntut oknum-oknum yang membuatnya sengsara selama belasan tahun diseret ke pengadilan.
Sesampainya di Jakarta, Indra akan menemui presiden. “Terserah nanti mau ditemui atau gak, yang penting saya sudah tunggu janjinya pak presiden hingga dua tahun,” ujarnya. Namun sayangnya, selama dua tahun tersebut, Indra tak mendapat respon yang berarti dari pihak istana.
 Ia mirip lelaki dalam cerita pendek The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway. Tubuhnya mulai menua. Sisa-sisa keperkasaan mulai luntur. Setiap pagi dia harus menatap hari-hari yang murung dan tak bersahabat.
Tapi, Indra Azwan, sang lelaki itu, bukanlah nelayan seperti tokoh dalam cerpen tersebut. Dia juga tak menghabiskan kesialannya di tengah laut. Kepedihan hatinya membawa Indra ke jalan raya. Dia bertekad mencari keadilan dengan berjalan kaki dari Malang ke Jakarta, bahkan bila perlu sampai Mekah.
Warga Blimbing, Malang, Jawa Timur, itu selama 19 tahun mencari keadilan atas kasus tabrak lari yang menimpa anaknya, Rifki Andika, 12 tahun, pada 1993. Kasus itu menggantung. Itu yang membuatnya kembali menjalani ritual berjalan kaki dari Malang menuju Jakarta dengan satu tekad: menuntut keadilan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
“Dia ingin mengembalikan uang Rp 25 juta pemberian Pak Presiden,” kata Beti, istri Indra.
Uang tersebut diterima Indra saat bertemu dengan Presiden pada 2010. Indra menerima uang tersebut setelah Presiden saat itu berjanji akan membantu membongkar kembali kasus kecelakaan yang mengakibatkan anaknya, Rifki Andika, tewas pada 1993. Rifki ditabrak saat akan menyeberang jalan di Malang oleh seorang polisi, Joko Sumantri.
Indra, 53 tahun, menuntut kasus kecelakaan itu kembali diungkap. Sebab, Joko terbebas dari jerat hukum. Itu berdasarkan putusan Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya pada 2008. Sebab, kasus dianggap kedaluwarsa, yakni melewati waktu 12 tahun. Kasus itu memang baru disidangkan 15 tahun kemudian.
Ini yang ketiga kali Indra melakukan aksi jalan kaki ke Jakarta. Aksi pertama pada 9 Juli 2010 dan tiba di Istana Negara 22 hari kemudian. Aksi kedua pada 27 September 2011 melalui jalur selatan, tapi tak sampai ke Istana karena ia sakit. Disusul aksi ketiga kalinya pada 18 Februari 2012.
“Keadilan itu cuma untuk orang kaya, bukan rakyat miskin,” kata Indra saat ke Jakarta pada 2010.
Ketika bertemu dengan Presiden pada 2010, diinstruksikan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia memprioritaskan perkara ini. Namun, dua tahun berlalu, kasus tersebut tetap tak diungkap. “Sudah 19 tahun tak ada perkembangan yang berarti,” ujar Beti lagi.
Jika gagal bertemu dengan Presiden, menurut Beti, Indra berencana mengadukan masalah ini kepada Tuhan. Indra menyiapkan paspor dan visa untuk berjalan kaki ke Tanah Suci untuk berpasrah diri. Ia akan berjalan melalui Palembang, Dumai, Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Iran, Kuwait, Riyadh, hingga ke Mekah.
Menurut Beti, Indra adalah sosok kepala rumah tangga yang berpendirian teguh. Tetangganya menjuluki Indra, Singo Edan, karena kecintaannya pada klub sepak bola Malang. Ia juga tegas dalam mendidik kedua anaknya yang kini masih duduk di sekolah dasar. Ia penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya.
Sementara itu, Indra kemarin malam tak dapat dihubungi. Sebelumnya, Sabtu lalu, Indra melintas di Cirebon. Ia, seperti dikutipAntara, menegaskan tetap akan terus berusaha meminta keadilan atas kematian anaknya.
Menurut dia, perlu pembenahan hukum secara menyeluruh supaya siapa pun pelaku kejahatan bisa dijerat hukum. Ia berharap keadilan bisa terwujud. Dan Indra pun terus mencari keadilan dengan berjalan dan terus berjalan.

0 komentar:

Poskan Komentar