Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Kamis, 29 April 2010

Dua Halte pun Ganti Nama

NAMA mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Gayus Halomoan P Tambunan dan mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Susno Duadji mendadak terkenal. Gayus terlibat makelar kasus (markus) pajak Rp28 miliar dan Susno aktor yang membongkar kejahatan keji tersebut.

Hampir setiap hari keduanya menjadi topik hangat yang disajikan media massa, baik nasional maupun daerah. Masyarakat sendiri sangat antusias mengikuti perkembangan penuntasan kasus yang memakan uang rakyat ini. Kendati kerugian negara lebih kecil ketimbang kasus Bank Century, markus pajak ini sangat menjadi sorotan publik.

Semua kalangan ambil bagian dalam mendiskusikan kasus ini. Mulai antar tetangga di lingkungan rukun tetangga (RT) sampai tingkat perlemen. Menariknya, topik yang diangkat hanya seputar sepak terjang Gayus dan Susno. Kini, keduanya pun ibarat celebritis yang tengah digandrungi publik.

Ternyata bukan sampi di situ. Secara alami Gayus dan Susno sudah seperti pahlawan. Namanya secara tidak tersirat diabadikan setidaknya hingga hari ini. Terutama ketika melintas di sepanjang Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Sebagian besar pengguna jasa transportsi pun kerap mendengar kedua nama tersebut

Gayus dan Susno ternyata sudah menjadi trademark bagi para pengemudi atau kondektur angkutan umum. Sopir dan kondektur Kompaja 640 jurusan Tanah Abang-Pasar Minggu mempelopori ide menggelikan. Bus ini memang melintasi sebagian jalan protokol tersebut.

Pengakuan Didi (45), karyawan swasta yang berkantor di Slipi, Jakarta Barat. Untuk menuju kantornya, dia selalu menggunakan bus tersebut. Anehnya, dalam beberapa pekan ini ada tingkah laku kondektur yang tidak lazim. Dia sempat heran dengan fenomena tersebut.

Ketika bus akan melintas di depan kator Dirjen Pajak, sang kondektur teriak Gayus, Gayus, Gayus. Biasanya, kondektur memberikan peringatan ke penumpang dengan sebutan Pajak, Pajak, Pajak. Semua penumpang pun bertanya, sejak kapan halte tersebut berganti nama.

Bus pun meninggalkan halte kantor Dirjen Pajak. Saat sebagian besar penumpang menyaksikan macetnya Jalan Gatot Subroto, kondektur tersebut kembali menyebut halte yang janggal terdengar yaitu Susno, Susno, Susno. Ternyata, bus tersebut hampir tiba di halte Polda Metro Jaya yang selama ini dikenal dengan sebutan Komdak.

Inilah bukti bahwa kasus yang sangat keji tersebut sudah menjadi perhatian publik. Buktinya, nama Gayus dan Susno secara lisan dijadikan nama halte yang notabennya institusi keduanya mengabdi.

Hal ini seharusnya menjadi perhatian sangat serius para penegak hukum. Betapa bobroknya mental dan moral sebagian pegawai negeri sipil (PNS) di Dirjen Pajak. Supremasi hukum wajib ditegakkan, tanpa tebang pilih. Berapa banyak uang rakyat yang dirampok para markus yang selama ini duduk tenang di Dirjen Pajak.

Akibatnya, ratusan bahkan ribuan rakyat yang kelaparan, kurang gizi dan nyawanya melayang akibat ulah biadab markus tersebut. Padahal uang yang dikorupsi tersebut sangat berarti bagi masyarakat miskin yang ada di peloksok Bumi Pertiwi ini.

Seandainya, gagal menuntaskan markus di lingkungan Dirjen Pajak, aparat penegak hukum sama saja dengan markus. Saat ini, Kepolisian, Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mengantongi nama markus di Dirjen Pajak. Nyali, rasa kemanusiaan dan sumpah prajurit Anda sebagai penegak hukum dipertaruhkan....

0 komentar:

Poskan Komentar