Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Rabu, 09 Mei 2012

Twitter dan Facebook Lebih Nyandu dari Rokok


Chicago, Dalam duniacyberspace sekarang ini, memiliki akun jejaring sosial bisa dikatakan adalah suatu keharusan. Peneliti menemukan bahwa twitter dan facebook lebih membuat ketagihan daripada alkohol dan rokok.

Melawan keinginan untuk memeriksa update status atau tweet di situs jejaring sosial ternyata lebih sulit daripada menahan dorongan untuk merokok dan meminum alkohol, bahkan lebih sulit dari menahan diri untuk berhubungan seks.

Hasil survei terhadap 250 orang menemukan bahwa tidur dan seks adalah dua hal yang kebanyakan dirindukan oleh kebanyakan orang setiap hari. Tetapi dorongan untuk tetap memantau situs jejaring sosial adalah hal yang paling sulit untuk ditolak.

Sebaliknya, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnalPsychological Science ini justru menemukan bahwa alkohol dan rokok memiliki tingkat ketagihan yang jauh lebih rendah. Padahal, keduanya memiliki reputasi sebagai bahan penyebab candu yang populer.

Peneliti dari University of Chicago Booth Sekolah Bisnis di Amerika peserta memberi peserta sebuah software untuk memasukkan 8.000 laporan tentang keinginan sehari-hari para peserta.

Peneliti menemukan bahwa menahan diri untuk tidak memeriksa update status ataupun timeline jejaring sosial akan meningkatkan kemungkinan untuk memantau jejaring sosial di kesempatan berikutnya. Semakin lama menahan diri akan memperbesar keinginan mengakses internet dan melihat situs jejaring sosial.

"Seiring berjalannya waktu, keinginan dan kontrol diri menjadi rendah, sehingga upaya yang dilakukan untuk menahan godaan membuka situs jejaring sosial lebih mungkin gagal," kata peneliti Dr Wilhelm Hofmann seperti dilansir Telegraph, Kamis (2/1/2012).

Sebuah penelitian serupa yang dipublikasikan pada jurnal yang sama mengklaim bahwa menahan diri ketika menginginkan makanan bisa membantu mengontrol banyaknya makanan yang dikonsumsi.

Peneliti dari Catolica-Lisbon School of Business and Economics menemukan bahwa orang yang menunda makan keripik dalam percobaan selama seminggu kemudian mengkonsumsi keripik dalam jumlah yang lebih rendah daripada yang segera memakan makanan ringan.

0 komentar:

Poskan Komentar