Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Senin, 13 Juni 2011

Kisah Pak Harto 'Mengislamkan' Anak Tommy


VIVAnews -- Pasca lengser, saat kekuasaan tak lagi di tangan, dan tamu tak lagi datang silih berganti ke Cendana, keluarga menjadi hiburan utama bagi Soeharto.

Apalagi, jika yang datang adalah cucu dan cicit yang masih kecil, atau yang lama tak kelihatan. "Suasana hati Pak Harto menjadi ceria," kata mantan pengawal pribadi Soeharto, I Gusti Nyoman Suweden dalam buku "Pak Harto, The Untold Stories".

Suatu hari, datanglah Dharma Mangkuluhur, putra Tommy Soeharto dan Ardhia Pramesti Regita Cahyani alias Tata. Pak Harto pun menjadi riang, berkali-kali ia menebar senyum.

"Anak Tommy sudah umur berapa," tanya Pak Harto pada Suweden.

"Sudah lewat tujuh tahun, Pak," jawab Suweden.

Lalu, giliran perintah yang dilontarkan oleh Soeharto. "Kalau begitu, bilang ke Tommy agar Dharma diislamkan."

Mendengar instruksi mantan penguasa Orde Baru itu, Suweden sontak bengong. "Diislamkan bagaimana, Pak? Dharma kan sejak lahir sudah Islam," Suweden bertanya balik, kebingungan.

"Maksud saya dikhitan, disunat," tegas Pak Harto. Suweden pun mahfum.

Masih soal Tommy, saat anak kesayangannya itu meringkuk di balik sel di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, ia tak tinggal diam. Soeharto menyempatkan diri membesuk.

"Tahun 2003, Pak Harto, Mas Sigit, dan saya pergi ke Nusakambangan menjenguk Mas Tommy," kata Suweden.

Diceritakan dia, kala itu, dalam perjalanan menuju Nusakambangan, Suweden menerima dua telepon. Yang pertama, dari mantan ajudan Soeharto yang kala itu jadi Kepala Staf Angkatan Laut, Arifin. Ke dua, dari Subagyo HS, mantan kepala Staf Angkatan Darat.

Mereka punya maksud yang sama, berkunjung ke Cendana dan menanyakan apakah Soeharto ada acara. "Maaf bapak sedang ada acara," jawab Suweden pada kedua penelepon. "Acara keluarga."

Namun, setelah pulang dari Nukambangan, Suweden kena akibatnya. Arifin tiba-tiba menanyakan, apakah benar ia baru dari Nusakambangan. Suweden membenarkan. "Jadi kamu bohongi saya, ya?" tukas Arifin.

Pak Harto yang mendengar dialog itu langsung menyela, "Saya yang suruh."

Itu bukan kali pertamanya, Suweden merasa dibela Soeharto. Suatu hari ia dimarahi Tutut, Siti Hardiyanti Rukmana. Gara-garanya ia tak melaporkan pendarahan yang dialami Soeharto. Saat itu Soeharto berkata, "Suweden, gara-gara saya kamu dimarahin orang banyak. Gara-gara saya," kata Soeharto berkali-kali. Suweden mengaku terharu.

Kisah-kisah keseharian Soeharto -- cerita ringan, humanis, atau yang lama jadi tanda tanya dimuat dalam "Pak Harto The Untold Stories". Buku ini diluncurkan pada 8 Juni 2011, saat peringatan ulang tahun pemimpin rezim Orba ini yang ke-90.

Hingga tiga tahun setelah kematiannya sosok Soeharto terus jadi kontroversi. Banyak yang menyalahkannya, tapi ada juga yang ingin menjadikan ia pahlawan. Wacana memberi gelar pahlawan pada Soeharto menuai kontroversi.

Misalnya, Ais Ananta Said adalah anak sulung Ali Said, SH, Jaksa Agung di masa Soeharto berkuasa mendukung penuh Soeharto menjadi pahlawan. Jasa mantan presiden itu, katanya, terlalu banyak untuk diabaikan dari gelar pahlawan.

Sejumlah anak tokoh Partai Komunis Indonesia dan korban pelanggaran HAM menolak keras. "Dijatuhkan rakyat, kok jadi pahlawan," tanya Ilham Aidit, anak Dipa Nusantara Aidit beberpa waktu lalu. (umi)
• VIVAnews

0 komentar:

Poskan Komentar