Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Sabtu, 25 Februari 2012

Habib Rizieq: Masyarakat Kini Bersimpati pada FPI


Jakarta – KabarNet: Propaganda pembusukan citra Front Pembela Islam (FPI) yang dikampanyekan oleh segelintir kelompok liberal Pro Maksiat dan Pro Aliran Sesat telah terbukti gagal total. Alih-alih berhasil mempengaruhi opini masyarakat, kampanye negatif yang didukung media sekuler berhaluan SEPILIS tersebut malah berbuah simpati masyarakat luas terhadap FPI. Dukungan demi dukungan terhadap FPI berdatangan dari berbagai kalangan. Masyarakat Indonesia khususnya umat Islam menolak dengan tegas hasutan kaum liberalis agar ormas FPI dibubarkan, bahkan sebaliknya masyarakat kini malah mendorong agar kepengurusan ormas FPI diperluas ke seluruh wilayah NKRI.

Pencitraan negatif terhadap Front Pembela Islam dilakukan secara terencana dan terorganisir, oleh kelompok-kelompok Pro Maksiat dan Pro Aliran Sesat yang tidak bisa tidur nyeyak karena adanya FPI. Koalisi kaum pembejat moral bangsa dan perusak aqidah Islam ini memanfaatkan sentimen isu HAM dan kemajemukan, dengan melakukan konspirasi bersama media-media sekuler berhaluan Sekularisme-Pluralisme-Liberalisme (SEPILIS), untuk mempropagandakan kampanye pembusukan citra FPI.

Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab di markas FPI, Petamburan, Jakarta, mengecam kampanye negatif terhadap FPI yang sengaja dilakukan oleh media-media berhaluan SEPILIS. Terutama pemberitan di media televisi yang memojokkan FPI terkait penyerbuan gerombolan preman yang mengatas-namakan masyarakat suku Dayak di Bandara Cilik Riwut, Palangkaraya, Kalimanten Tengah, beberapa waktu yang lalu. “FPI yang jadi korban, tapi FPI yang dihujat, ini menarik. Konyolnya lagi, ada stasiun televisi yang memutar tayangan aksi FPI tahun 2001, saat FPI melakukan perusakan terhadap tempat billiard di Jakarta. Ketika itu, Ustadz Ja’far ditangkap dan sudah diadili oleh pengadilan, setidaknya ada delapan ustad yang ditangkap. Aneh, kenapa Televisi terus memutar tayangan yang sudah sangat lama tersebut, kayak sudah kehabisan film saja,” kecam Habib Rizieq.

Contoh yang lain, lanjut Habib Rizieq, adalah insiden Monas. Peristiwa kerusuhan di Monas yang sebetulnya sudah selesai beberapa tahun yang lalu, dimana Habib Rizieq dan Munarman sudah ditahan dan divonis penjara, namun film yang menayangkan kejadian kerusuhan itu masih selalu ditayangkan berulang-ulang, sehari beberapa kali, sampai sekarang. Seakan-akan ingin dicitrakan dan ditanamkan selama-lamanya ke benak masyarakat pemirsa televisi seolah-olah FPI adalah ormas yang anarkis.

Dalam hal ini, Habib Rizieq meyakini ada konspirasi besar dari kelompok liberal berhaluan SEPILIS yang merasa langkahnya terganggu dengan kehadiran FPI, sehingga mereka tidak bisa menjalankan program-program liberalisasi di bidang agama. Mereka, lanjut Habib Rizieq, melakukan konspirasi untuk menghancurkan FPI. Setiap kali ada kesempatan sekecil apapun, mereka akan berteriak: “Ganyang FPI” habis-habisan.

Bagi FPI, ujar Habib Rizieq menambahkan, serangan di bandara Palangkaraya itu menggelikan dan sekaligus sangat menguntungkan FPI. Berkat kejadian itu mereka yang tadinya tidak simpati, kini malah bersimpati pada FPI. Atau yang tadinya sudah bersimpati kini menjadi semakin bersimpati pada FPI. Masyarakat Indonesia, lanjut Habib Rizieq, bukanlah masyarakat yang tolol. Mereka bertanya-tanya, kenapa FPI yang jadi korban kok malah diganyang dan diminta agar dibubarkan. Sedangkan gerombolan preman yang jelas-jelas mengepung dan menjebol bandara, bahkan berupaya untuk melakukan pembunuhan kok malah dibiarkan, dan terkesan ada pembenaran.

“Ini sangat menguntungkan FPI. Karena itu FPI tidurnya tetap nyenyak. Tapi bagi kawan-kawan di luar FPI, atau simpatisan FPI, justru malah gusar saking cintanya pada FPI ketika ada kelompok liberal yang bernafsu agar FPI bubar,” pungkas Habib Rizieq. [KbrNet/adl]

0 komentar:

Poskan Komentar