Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Kamis, 10 Maret 2011

Anton Medan Beberkan Modus & Sindikat Narkoba di Nusakambangan


Jakarta - Mantan terpidana kasus pembunuhan dan perampokan, Anton Medan, pernah merasakan pilunya hidup di berbagai lembaga pemasyarakatan, termasuk di LP Nusakambangan. Dari pengalaman tersebut, dia membeberkan modus dan siapa saja pemain narkoba di tahanan. Bagaimana sebenarnya?

Menurut Anton, para pemain besar yang terlibat di LP Nusakambangan tak jauh dari bandar-bandar asing. Perlakuan yang diskriminatif terhadap napi asing semakin membuat aksi mereka tak terbendung.

"Paling banyak dari kulit hitam Nigeria, Nepal dan segala macam. Ini terjadi karena ada ruang dan kesempatan. Bergerak di negara sendirinya susah, tapi di negara kita gampang," kata Anton saat berbincang dengan detikcom, Kamis (10/3/2011).

Bagi Anton yang pernah ditahan di 14 penjara berbeda ini, perlakuan hukuman terhadap napi asing berbeda dengan napi lokal. Mulai dari makanan hingga fasilitas, kadang lebih diperhatikan.

"Padahal mereka lebih jahat, diatur seperti dianakemaskan," ungkapnya.

Bagaimana cara napi memasukkan narkoba ke Nusakambangan? Menurut pemilik nama Tan Hok Liang ini, modusnya bermacam-macam. Mulai dari menyuap petugas hingga menggunakan teknik-teknik klasik yang cukup cerdik.

Misalnya, ada seorang terpidana di Nusakambangan yang pernah menyelundupkan barang lewat pemesanan televisi. Karena paket di dalam televisi tidak diperiksa secara baik oleh petugas, barang haram itu pun masuk ke penjara.

Lalu ada kejadian yang unik saat Anton mendekam di LP Cipinang pada tahun 1977-1985. Ada penghuni LP yang menggunakan burung dara untuk memasukkan barang.

"Napi yang menjalani hukuman piara burung dara. Ketika ada yang besuk, dibawa burung dara tersebut. Lalu pas di luar, heroin diikatkan ke sayap dan burungnya dilepaskan supaya bisa balik ke LP," ceritanya.

Lebih lanjut, Anton menjelaskan praktik suap-menyuap pada sipir dan petugas Lapas. Bagi dia, praktik itu sudah lazim terjadi, namun biasanya para petugas tidak terlibat langsung dalam peredarannya.

"Mereka bukan nggak tahu, tapi mereka nggak terlibat langsung. Caranya dengan fasilitas yang mereka berikan, mereka pura-pura nggak tahu saja," ucapnya.

Ke depan, dia berharap ada perbaikan menyeluruh tentang pengawasan di LP. Para petugas harus diperhatikan gajinya dan para terpidana narkoba harus dihukum seberat-beratnya.

"Kalau yang sudah divonis mati, langsung saja eksekusi," terang pemilik pondok pesantren di Bogor ini.

(mad/did)

0 komentar:

Poskan Komentar