Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Jumat, 04 Maret 2011

Musibah, Ada Pesantren Khusus Waria di Jogja


PONDOK pesantren itu diberi nama Ponpes Waria Al-Fatah Senin-Kamis, Notoyudan. Mulai beroperasi pada 2008 ketika pendirinya, Maryani, mendapat pengalaman-pengalaman yang menggelisahkan batin. Misalnya, selama ini kaum waria sulit beribadah di tempat ibadah pada umumnya.

“Ponpes umumnya mungkin akan menolak waria yang hendak beribadah. Karena itu, saya mendirikan pondok ini untuk memberikan tempat bagi waria untuk beribadah. Apalagi saya mendapat dukungan kiai yang bersedia mengajari kami,” terang Maryani ketika ditemui Jogja Raya (Jawa Pos Group) pekan lalu.

Pondok itu diberi nama Al-Fatah Senin-Kamis semata-mata untuk mengajak para “santri” banyak beribadah. “Salah satunya dengan puasa setiap Senin-Kamis. Karena itu, pondok ini saya namakan Pondok Al-Fatah Senin-Kamis,” tuturnya.

Awal didirikan, ponpes tersebut memiliki 35 “santri”. Yang mondok bukan hanya kaum transgender. Ada pula kaum gay dan lesbian. “Tapi, sekarang hanya tinggal 20 waria yang aktif. Teman-teman gay dan lesbian sudah tidak ada,” ungkap waria 51 tahun yang membuka salon di rumahnya tersebut.

Selain Jogja, waria-waria yang menjadi “santri” di Ponpes Al-Fatah datang dari berbagai kota di Indonesia. Di antaranya, Surabaya, Mataram, Medan, dan Bandung. Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang bekerja sebagai perias pengantin, penata rambut di salon, pegawai PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), perajin perak, aktif di LSM, dan sebagainya. Tapi, ada juga yang masih senang “keluar malam”.

Mereka memang tidak menetap di rumah Maryani yang tidak begitu besar. Namun, setiap hari mereka datang ke pondok Maryani mulai pukul 17.00 hingga esoknya. Selama di pondok itulah mereka diajak menjalankan ibadah bersama-sama. Misalnya, salat berjamaah, belajar membaca Alquran, dan salat malam.

“Ketika magrib, kami salat berjamaah, dilanjutkan membaca salawat nariyah, Al Fatihah 100 kali, lalu salat Isya dan belajar membaca Alquran mulai alif, ba?, ta?,” jelas Maryani.

Menurut dia, waria yang datang ke pondok tidak dipungut biaya sepeser pun. Untuk biaya operasional, Maryani menggunakan tabungannya dari hasil usaha salon rias pengantin serta sumbangan dermawan yang datang untuk bertamu. “Tapi, kadang saya harus ngutang ngalor-ngidul. Gak apa-apa. Yang penting pondok jalan.”

Selain kegiatan rutin tiap hari, Maryani dan para “santri” sering melakukan bakti sosial di lokasi bencana alam. Misalnya, saat Gunung Merapi meletus tahun lalu. Ponpes Al-Fatah mengirimkan 20 waria yang ahli di bidang pangkas rambut. “Mereka bertugas di posko penampungan korban. Tugasnya, antara lain, memotong rambut para pengungsi,” ceritanya.

Bakti sosial itu dilakukan Maryani dan kawan-kawan di beberapa tempat penampungan pengungsi di Magelang. “Alhamdulillah, selama kegiatan, kami bisa mencukur sekitar 250 pengungsi. Karena yang kami miliki keahlian memotong rambut, ya itu yang bisa kami sumbangkan,” ujarnya.

Keunikan ponpes Maryani ternyata mengundang rasa penasaran berbagai pihak. Selain media massa, para peneliti asing sering bertandang. Di antaranya datang dari Prancis, Jerman, dan Belanda. “Mungkin pondok kami satu-satunya yang pernah ada di dunia. Karena itu, orang-orang asing tersebut ingin tahu seperti apa isinya,” tambah waria murah senyum itu.

Di Jogja, saat ini terdapat sekitar 200 waria. Kebanyakan bekerja sebagai pengamen di lampu-lampu merah dan bekerja di salon. Meski tidak sedikit yang beragama selain Islam, Maryani tetap membuka pondoknya untuk mereka. “Tidak ada diskriminasi di sini. Yang beragama lain silakan datang.

Harus Terus Bersyukur

Rambut pendeknya tertutup kerudung cantik merah. Meski sudah muncul keriput di sana-sini, waria itu masih terlihat energik. Meski begitu, Maryani tidak pernah merasa terlahir sebagai waria. Bagi dia, hidupnya sekarang adalah anugerah yang harus disyukuri meski orang-orang mencibirnya sebagai orang berkepribadian ganda. “Waria itu bukan pilihan hidup. Saya jelas tidak mau kalau disuruh memilih menjadi waria,” tegasnya.

Maryani merasa terpanggil untuk mengumpulkan teman-temannya sesama waria di Ponpes Al-Fatah Senin-Kamis yang dia dirikan. “Waria juga manusia yang ingin beribadah. Ingin sujud di hadapan Allah,” ujar waria kelahiran Jogja, 15 Agustus 1960, tersebut.

Dia mulai aktif dalam pengajian yang diasuh Kiai Amroni sekitar 20 tahun silam. Dialah satu-satunya waria di antara sekitar 3.000 jamaah yang aktif mengikuti pengajian tersebut. Dari kondisi itulah, Maryani lalu berpikir untuk memberikan wadah bagi kaum waria agar bisa bebas menjalankan ibadah tanpa harus menghadapi penolakan dari berbagai pihak.

“Kadang waria ingin masuk ke masjid saja dilarang. Di sini (ponpes) mereka bisa beribadah dengan bebas,” tegasnya.

Menurut dia, hidup tidak lebih dari perhentian sementara menuju dunia yang kekal. Karena itu, dia merasa perlu mengisi kehidupannya di dunia dengan hal-hal positif. “Kita sewaktu-waktu pasti naik keranda. Nah, saya perlu nyari sangu dulu kalau sewaktu-waktu ditimbali Gusti Allah,” jelas Maryani.

Sebelum menetap di kampung halamannya, dia sempat bertualang di beberapa kota lain. Dia pernah bekerja sebagai petugas cleaning service sekaligus penata rambut di sebuah salon di Semarang. “Saya belajar nyalon, tapi juga ngepel-ngepel lantai,” ungkapnya.

Kehidupan malam pun sempat dicicipi. Namun, setelah tabungannya dirasa cukup, dia mulai membuka salon sendiri di rumah. Bahkan, kini Maryani bisa mempekerjakan beberapa kawannya sesama waria.

Selain salon dan ponpes, hidup Maryani makin lengkap dengan kehadiran gadis cilik Rizki Ariani yang diadopsi sejak berumur satu setengah hari. “Saya memberi nama Rizki karena Allah telah begitu banyak memberikan anugerah untuk saya. Sementara itu, Ariani dari nama saya, Maryani,” jelas Maryani dengan ekspresi berseri-seri.

Dia tidak punya obsesi yang muluk-muluk untuk ponpesnya. Bahkan, dia tidak berharap uluran tangan pemerintah. Dia hanya ingin mengajak kawan-kawannya sesama waria untuk datang ke ponpesnya guna mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan begitu, mereka akan memiliki tujuan hidup yang lebih baik. “Selanjutnya terserah Gusti Allah,” tegasnya. JPNN.COM

0 komentar:

Poskan Komentar