Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Selasa, 22 Maret 2011

Munarman : Bom Utan Kayu Pengalihan Isu Belaka


Sesudah berkali-kali menghadapi sodokan politik yang dialami Presiden SBY, seperti tudingan bohong dari "Aliansi Agma-Agama", di susul tendangan dari koran The Sydney Morning Herald dan The Age, kemudian timbul berita besar yang menyita perhatian publik.

Ketika panik dengan tuduhan Presiden SBY melakukan kebohongan, di mana terjadi peristiwa penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Cikeuting, Padeglang, dan ditambah dengan amuk di Temanggung, yang disertai pengrusakan gereja.

Maka, Front Pembela Islam menilai rangkaian teror bom yang terjadi di tiga lokasi di Jakarta, dan satu lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta, hanyalah bentuk pengalihan isu belaka. Dua peristiwa itu bikin geger.

Sekarang, sesudah hiruk pikuk di Jakarta, akibat tuduhan terhadap Presiden SBY oleh koran Australia The Sydney Morning Herald dan The Age, yang menulis bahwa Presiden melakukan "abused of power" (menyalahgunakan kekuasaan), tiba-tiba terjadi peristiwa ledakan paket bom di Utan Kayu, di kantor Radio H 68, tempat mangkalnya "Mas Gun" Gunawan Muhamad dan Ulil Abshor, yang menjadi dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal), yang sekarang menjadi tokoh di Partai Demokrat sebagai ketua.

Menanggapi peristiwa yang terjadi di Utan Kayu itu, Koordinator Advokat FPI, Munawar, menyatakan, "Jadi yang perlu untuk dilihat dan dipertanyakan, kenapa setiap ada persitiwa politik yang besar selalu muncul peristiwa bom," ujarnya.

Bahkan Munarman tidak percaya, jika rangkaian paket teror bom ini dilakukan oleh kelompok Islam garis keras. kelompok tersebut, menurutnya hanya dijadikan kambing hitam yang telah disiapkan tong sampahnya.

"Pola semacam itu pola sejak zaman orde baru, hanya berbeda kambing hitamnya," tegas Munarman.

Lebih jauh Munarman menjelaskan, jika aksi teror ini dilakukan oleh kelompok Islam garis keras, tidak ada relevansinya dengan Pemuda Pancasila dan Badan Narkotika Nasional.

"Kalau ditujukan pelaku adalah Islam garis keras, hubungannya dengan Mas Japto apa? mestinya kalau orang yang menggunakan rasio dan logikanya apa hubungannya dengan Mas Japto?" tutur mantan ketua LBH.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga paket teror bom dalam kemasan buku ditemukan di kantor Komunitas Utan Kayu yang merupakan kantor Ulil Anshar Abdalla, Gedung Badan Narkotika Nasional yang merupakan kantor Kepala BNN Gories Mere, dan rumah Ketua Pemuda Pancasila Japto S Soerjosoemarmo.

Paket bom buku yang dikemas menggunakan amplop cokelat besar ini, dikirimkan langsung oleh pelaku, dengan menujukan kiriman paket tersebut kepada tiga orang personal yakni Ulil, Gories, dan Japto.

Selain itu tengah malam tadi, teror bom juga dialami oleh Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Brigadir Jenderal Ondang Sutarsa. Teror disampaikan melalui surat yang dikirimkan ke rumah dinas Ondang, yang berpesan akan ada paket bom yang meledak dirumahnya.

Dengan peristiwa yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta itu, kembali media massa dan opini diarahkan kepada si "teroris" dan "Islam garis keras", yang menjadi kambing hitam. Nampaknya di Indonesia "teroris" dan "Islam Garis Keras" menjadi obat mujarab untuk mengalihkan isu politik yang besar, dan yang berkaitan dengan kekuasaan. (nhm/inlh)

0 komentar:

Poskan Komentar