Today :

Not found what you looking for?:

Diposting oleh PUTRA BETAWI

Published on Minggu, 21 Juni 2009

Berbohong Bersama BOEDIONO


Suara Islam Edisi 68. Ada kisah menarik ketika deklarasi capres dan cawapres dari Partai Demokrat di Bandung beberapa waktu lalu. Waktu deklarasi diumumkan pasangan SBY-Boediono dinamakan SBY-Berbudi, yang dimaksudkan SBY Bersama Boediono. Namun tiba-tiba sehari kemudian, pihak Partai Demokrat mengumumkan pergantian nama sebutan menjadi SBY-Boediono.

Ternyata sebutan SBY-Berbudi menimbulkan kemarahan SBY, setelah diberi tahu Berbudi dalam bahasa Palembang berarti Berbohong, jadi SBY-Berbudi berarti SBY Berbohong alias suka membohongi rakyat, sangat cocok dengan karakter SBY selama ini yang selalu membohongi rakyat. Adapun yang mengherankan adalah sewaktu jenderal bintang dua, SBY pernah menjabat Pangdam Sriwijaya, sedangkan Ketua Tim Sukses SBY-Berbudi adalah Hatta Radjasa, calon besan yang juga asli Pelembang. Mengapa keduanya sebelumnya tidak mengetahui kalau Berbudi berarti berbohong.

Ketika penulis menjadi wartawan di Yogyakarta menjelang pilpres 2004 lalu, penulis merasa dibohongi SBY.

Pasalnya, waktu itu SBY mengunjungi Sri Sultan HB X di Kraton Kilen Yogyakarta. Sewaktu sesi tanya jawab antara SBY dengan para wartawan, penulis bertanya apakah SBY bersedia mengundurkan diri dari kursi RI-1 jika terpilih tetapi tidak merealisasikan berbagai janjinya selama kampanye pilpres yang sudah memasuki putaran kedua tersebut. Ternyata jawabannya tidak jelas kesana kemari, tetapi intinya SBY tidak akan mengundurkan diri meski tidak mampu merealisasikan janjinya selama kampanye kepada rakyat Indonesia.

Peristiwa serupa juga pernah terjadi pada pakar otonomi daerah, Prof Dr Ryass Rasyid. Pada pilpres 2004 lalu, Ryass pernah dijanjikan SBY akan dijadikan Mendagri karena kapasitasnya sebagai pakar otonomi daerah yang tentu saja ahli pemerintahan daerah. Ternyata setelah SBY memenagkan pilpres kedua dan mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu, nama Ryass Rasyid tidak tercantum sebagai Mendagri. Selidik punya selidik, ternyata SBY telah menjanjika kuris Mendagri kepada 9 orang lainnya, sedangkan Ryass adalah yang ke 10. Dengan demikian, SBY hanya menebar kebohongan dan angin surga kepada para calon Mendagri tersebut.

Ternyata pasangan capres-cawapres SBY-Boediono sama-ama memiliki keahlian berbohong. Cuma bedanya SBY ahli dalam membohongi rakyat melalui kata-kata, sedangkan Boediono pakar dalam membongi rakyat melalui tindakannya. Adapun yang dimaksud membohongi rakyat melalui tindakan adalah berbagai program ekonominya selama ini selalu merugikan bahkan menyengsarakan rakyat Indonesia. Sebab Boediono sejak menjadi Dosen Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta dikenal sebagai ekonom berotak neoliberal.

Berjangkitnya virus neoliberalis pada kepala Boediono itulah yang menyebabkan kesengsaraan rakyat, sehingga kemiskinan meningkat pesat dan pengangguran merebak. Gara-gara penyakit virus neoliberalis pada diri Boediono itulah menyebabkan lolosnya BLBI yang akhirnya merugikan keuangan negara hingga sekarang mencapai Rp 700 triliun, liberalisasi perdagangan dan industri yang menyebabkan industri rakyat gulung tikar dan mencetak pengangguran baru sehingga kemiskinan bertambah, serta privatisasi sejumlah perbankan dan BUMN yang menyebabkan sejumlah perbankan nasional dan BUMN dikuasai pihak asing. Jadi boleh dikatakan Boediono telah membohongi rakyat Indonesia dengan mengadaikan negara kepada pidak asing.

Saking begitu gawatnya dampak virus neoliberal yang diotaki Boediono ini, sampai-sampai pakar ekonomi senior H Soeharsono Sagir pernah menyatakan seolah-olah mustahil untuk menghilangkan penyakit virus neoliberal dari Indonesia. Jikapun dapat diberatas, akan memerlukan beberapa syarat cukup berat jika kita mampu mencapai fundamental ekonomi kuat dan berkelanjutan yang bercirikan laju pertumbuhan ekonomi tinggi yang didukung:

Pertama, perluasan kesempatan kerja, dimana rakyat yang memasuki pasar kerja memperoleh kesempatan kerja dan hidup layak. Kedua, perkembangan harga barang dan jasa serta nilai tukar stabil terkendali, kebijakan moneter berhasil menjamin stabilitas moneter yang berlanjut. Ketiga, keuangan negara (APBN) dalam kondisi sehat; tidak lagi mengalami defisit berkepanjangan sehingga negara tidak dalam kondisi debt trap (perangkap utang) dan "dipaksa" menjual aset untuk memenuhi kewajiban utang jatuh tempo, kebijakan fiskal yang menjamin terjadinya stimulus ekonomi untuk pertumbuhan.

Keempat, kondisi moneter perbankan yang prudent dan sehat; bank mampu menjadi lembaga intermediasi yang sehat, mampu mengerahkan dana pihak ketiga (penyimpan) untuk disalurkan ke dunia bisnis, untuk pertumbuhan dan perluasan kesempatan kerja. Kelima, kondisi neraca pembayaran yang favorable (ekspor-impor) sehingga tidak hanya cadangan devisa bertambah (surplus), tetapi juga terjadi perluasan kesempatan kerja karena meningkatnya komoditas ekspor. Keenam, terjadi sustainable development karena pembangunan yang ramah lingkungan. Jelaslah, keenam syarat yang diajukan ekonom senior H Soeharsono Sagir tersebut tidak akan mungkin dipenuhi pasangan SBY-Boediono jika nanti memenangkan pilpres 2009.

Boediono Sederhana ?

Akhir-akhir ini berbagai media cetak maupun elektronik yang berhasil ”dibeli” pasangan SBY-Boediono selalu mengabarkan seolah-olah Boediono seorang yang hidup sederhana, berasal dari anak desa di Blitar dan santun kepada setiap orang.

Boediono diberitakan segera mengembalikan mobil dinas Gubernur Bank Indonesia begitu mengundurkan diri karena menjadi pasangan SBY. Demikian pula Boediono dikabarkan ketika berkunjung ke Abu Dhabi sebagai menko perekonomian, membeli beberapa pakaian murah di pasar loak seharga Rp 80 ribu, sangat murah untuk ukuran seorang menteri.

Selain hidup sederhana, Boediono juga digambarkan sangat santun termasuk kepada para bawahannya di Bank Indonesia. Boediono juga dinilai sebagai pajabat yang bersih dari berbagai macam skandal. Padahal total kekayaan Boediono seperti dilaporkan KPU mencapai Rp 22 miliar dan anaknya kuliah di Australia.

Barangkali Boediono sederhana dan santun kepada semua orang. Namun sederhana dan santun itu hanya dalam ucapan, tetapi seungguhnya selama ini policy ekonominya mubadzir dalam keuangan negara dan bersikap arogan. Terbukti Boediono hobi mencari utang kepada lembaga keuangan internasional. Maka tidaklah mengherankan jika dalam waktu 5 tahun kekuasaan ekonominya, hutang luar negeri Indonesia naik 25 persen atau Rp 445 triliun menjadi Rp 1667 triliun. Hutang segede itu baru akan lunas terbayar tahun 2033 jika setiap tahunnya diangsur Rp 50 triliun. Boediono yang selama ini dianggap sederhana, ternyata dialah salah seorang arsitek hancurnya perekonomian nasional yang menyebabkan membludaknya jutaan kemiskinan dan pengangguran baru.

Kalau dikatakan santun, sebagai orang Jawa Boediono memang terlihat santun kepada setiap orang. Namun hanya santun dalam pergaulan, tetapi tidak santun dalam mengelola ekonomi. Boediono yang dikenal sebagai antek IMF dan World Bank, menjadikan perekonomian Indonesia diambang collapas akibat sikapnya yang ngotot menerapkan sistim ekonomi neoliberal yang sudah terbukti gagal total di negara-negara Amerika Latin. Ekonomi neoliberal yang menyengsarakan rakyat itu sudah dianggap sampah di Amerika Latin, mengapa justru terus diterapkaan di Indonesia. Apa maumu hai Boediono, apakah engkau ingin mendapat gelar budak atau agen asing yang bertugas menghancurkan ekonomi rakyat Indonesia ? (Lim)

0 komentar:

Posting Komentar