Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Senin, 09 Mei 2011

Antasari Hanya jadi Kambing Hitam


JAKARTA – Sejak Nasrudin Zulkarnaen tewas ditembak, Andi Syamsuddin penasaran. Adik Nasrudin itu tidak percaya bahwa kakaknya ditembak tanpa alasan kuat. Apalagi, selama ini Nasrudin bukan pribadi yang punya banyak musuh. “Saya putuskan untuk investigasi sendiri setelah kakak meninggal,” kata Syamsuddin saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (8/5).

Syamsuddin juga tidak percaya ketika polisi menyatakan bahwa Antasari Azhar menjadi aktor intelektual di balik pembunuhan tragis itu. Setelah kematian Nasrudin, Syamsuddin menemui sejumlah pihak yang mengetahui kasus tersebut. Mulai Rani Juliani, sejumlah penyidik, bahkan juga Antasari. Terakhir dia menemui Antasari pada pertengahan Maret lalu. “Saya akhirnya percaya bukan dia pelakunya. Ada dalang di balik kasus ini. Itu yang harus diungkap,” katanya.

Syamsuddin mengatakan, investigasi yang dia lakukan menunjukkan bahwa bukan Antasari otak penembakan tersebut. Apa lagi dengan diperkuat pesan dari almarhum kepada dirinya. “Antasari memiliki kartu truf yang berbahaya kalau diungkap. Itulah mengapa diperkarakan,” ujarnya.

Antasari, kata Syamsuddin, hanya pihak yang dijadikan kambing hitam atas pembunuhan tersebut. Orang-orang yang berada di sekelilingnya dibikin sedemikian rupa untuk memperkuat dugaan bahwa lelaki kelahiran Bangka Belitung itulah yang merencanakan pembunuhan.

Lelaki berkumis lebat itu mengaku memiliki sejumlah informasi tentang pembunuhan tersebut. Dia juga memiliki data terkait dalang di balik rekayasa itu. Namun, dia menolak mengungkapkan. Dia khawatir dirinya justru akan diperkarakan jika membuka informasi itu. Sebab, kasus tersebut melibatkan sejumlah pejabat tinggi di Indonesia.

“Apakah LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Red) bisa melindungi saya? Orang sekelas Susno Duadji dan Gayus Tambunan saja tidak bisa dilindungi. Apalagi, mereka menjalin kerja sama dengan kejaksaan dan kepolisian, bagaimana bisa independen kalau ada intervensi dari mereka,” katanya.

Karena itu, Syamsuddin hanya bisa memberikan dorongan moral. Dia tidak bisa terlibat lebih jauh terhadap kasus yang dihadapi mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. Dia juga menuntut Antasari lebih transparan dalam mengungkap pihak-pihak yang ingin memerkarakan dirinya.

Sebab, selama ini Antasari cenderung tertutup setiap ditanya dalang kasusnya. “Soal kasus hukum, hanya Pak Antasari yang bisa terus mengungkap. Dia yang punya kartu,” kata mantan wartawan itu.

Kejanggalan-kejanggalan Kasus Antasari :

Hanya anak peluru dan celana jins Nasrudin yang disita. Baju yang disebut berceceran darah tidak diajukan dalam sidang. Pemeriksaan forensik terfokus pada peluru, bukan mobil korban. Padahal, seharusnya ada bekas peluru yang menembus kaca mobil.
Jumlah peluru berbeda. JPU di sidang menyebut, ada tiga peluru. Ahli forensik Abdul Mun”im Idris menyebut, ada dua peluru berdiameter 9 mm. Peluru pertama masuk dari arah belakang sisi kepala sebelah kiri dan peluru kedua dari arah depan sisi kepala sebelah kiri. Padahal, bekas peluru pada kaca segi tiga mobil Nasrudin hampir sejajar dan tidak ada bekas peluru dari belakang.
Peluru di kepala korban berdiameter 9 mm dan berasal dari senjata yang baik. Padahal, senjata yang digunakan eksekutor adalah revolver berkaliber 0,38 dengan salah satu silinder pistol macet.
SMS ancaman tidak pernah masuk ke handphone Nasrudin. Ahli IT Agung Harsoyo menduga pengiriman SMS dilakukan melalui web server. Chip HP Nasrudin rusak sehingga tidak bisa dibuka.
Penyitaan tiga barang bukti dari ruang kerja Antasari di KPK tidak berkaitan dengan perkara pembunuhan. Penyitaan itu juga tidak dikonfirmasi kepada Antasari.
Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo (eksekutor) diperiksa dengan cara dianiaya di luar lingkungan Polda Metro Jaya, sedangkan Rhani Juliani diperiksa di hotel, restoran dan apartemen. JPNN.COM/ Reportase Jawa Pos, 2011
Misteri Baju Almarhum Nasrudin Zulkarnaen

1 komentar:

Poskan Komentar