Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Kamis, 12 Mei 2011

Hebat, Para Siswa Ini Tempuh 20 Km untuk Ikuti UN


GUNUNGKIDUL- Memiliki luas hampir separuh Provinsi DIY, banyak sekolah terutama tingkat sekolah dasar (SD) di Gunungkidul yang berlokasi di wilayah terpencil.

Seperti SDN Wonolagi Desa Ngleri, Kecamatan Playen, meskipun hanya memiliki lima siswa kelas 6, tetapi UN tetap dilaksanakan sebagaimana ketentuan yang berlaku.

Untuk menuju ke SD yang memiliki jumlah siswa hanya 18 orang itu, mereka harus menempuh jalan bebatuan dan menyebrang sungai dengan jembatan gantung. Jarak dengan ibu kota kecamatan sekira 20 kilometer.

Kendaraan roda empat tidak bisa masuk ke Dusun Wonolagi, pasalnya lebar jembatan masuk ke perkampungan hanya dapat dilalui oleh roda dua.

Jika hujan, sebagian besar murid tidak menggunakan alas kaki karena jalan kampung sebagian masih berupa batu. Para tenaga pendidik setiap harinya juga harus berjuang menempuh jarak sekira 30 kilometer untuk bisa sampai ke sekolah ini, pasalnya sebagian besar guru berasal dari pusat kota Wonosari.

Menurut Kepala Sekolah SDN Wonolagi, Maksum, meski hanya berjumlah lima orang pihaknya tetap melaksanakan ujian.

“Tahun ini kami melaksanakan UN meski jumlahnya hanya lima. Tahun lalu tidak ada ujian karena kelas 6 tidak ada muridnya,” tutur Maksun, Kamis (12/5/2011).

Sekolah ini hanya satu-satunya SD di Dusun Wonolagi. Jumlah warga dusun hanya 40 kepala keluarga dan sebagian besar tidak mempunyai anak usia sekolah.

Tidak mengherankan jumlah siswa SD ini selalu kurang. Diakui Maksum, beberapa tahun lalu sekolah ini sempat akan digabung dengan sekolah lain, tetapi rencana itu tidak ada kelanjutannya, sebab pihak warga setempat juga menghendaki keberadaan SD ini.

“Sebab kalau digabung dengan SD lain dusun letaknya terlalu jauh, harus menempuh sekira 6 kilometer itu paling dekat,” tambahnya.

Dengan menempat di lokasi yang terpencil, tidak mengherankan kondisi SD ini sangat memprihatinkan. Ruang antarkelas hanya disekat menggunakan triplek. Itu pun beberapa bagian sudah rusak.

“Tetapi dengan berbagai masalah ini, kami tetap bertekad agar lima siswa ini bisa lulus semua dengan nilai yang baik,” harap Maksum.

Sementara itu, meski jumlah siswa sedikit, tidak menyurutkan semangat mereka mengikuti UN. Mereka terlihat serius mengerjakan soal-soal.

“Kami sudah dibekali tryout dan pelajaran tambahan, jadi kami lebih siap untuk melaksanakan ujian,” ungkap seorang murid, Muhammad Yusuf (11).

Yusuf mengaku, ada keuntungan dengan jumlah siswa yang sedikit. Mereka jadi lebih konsentrasi, pasalnya para guru semakin intensif mengajar.

“Kami jadi lebih fokus dalam belajar dan kami yakin lulus semua,” kata murid lainnya, Antok Ashari.

(Markus Yuwono/Trijaya/ton)

0 komentar:

Poskan Komentar