Today :

Not found what you looking for?:

Diposkan oleh PUTRA BETAWI

Published on Sabtu, 09 April 2011

Teror Bom Buku Hasil Operasi Intelijen


Kol. (Purn) H.Y. Herman Ibrahim
Pengamat Politik, Militer dan Intelijen


Bermula dari kawat diplomatik rahasia Kedubes AS di Jakarta untuk Kementerian Luar Negeri AS di Washington DC yang dibocorkan WikiLeaks dan dimuat sebagai headline oleh dua koran terkemuka Australia, The Age dan The Sydney Morning Herald, edisi Jum’at (11/3). Menurut pengakuan WikiLeaks, Kedubes AS di Jakarta memperoleh kabar sensitif dari lingkaran elite Istana karena diberitahu mantan anggota Wantimpres TB Silalahi dan Menko Kesra Agung Laksono yang waktu itu menjadi petinggi Golkar.


Dalam kawat diplomatik rahasia itu disebutkan Presiden SBY telah menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power), di mana SBY secara pribadi telah campur tangan untuk mempengaruhi Jaksa dan Hakim demi melindungi para tokoh politik korup dan menekan musuh-musuh politiknya. Presiden SBY juga disebut telah mempergunakan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk memata-matai Mensesneg Yusril Ihza Mahendra yang dianggap sebagai lawan politiknya paling potensial. Semua gerak gerik Yusril Ihza Mahendra terus diamati aparat BIN untuk dilaporkan ke SBY termasuk ketika berkunjung ke Singapura.

Selain itu juga diungkapkan Ibu Negara Ani Yudhoyono dan keluarganya telah bertindak sebagai makelar (broker) untuk mendapatkan imbalan persenan fulus dalam setiap proyek pembangunan, demi memperkaya diri sendiri dan keluarga besarnya serta koneksi politiknya. Akibat berbagai laporan tersebut, Presiden SBY seharian sempat ngumpet di Istana sampai tidak menjalankan Sholat Jum’at di Masjid Baiturrahim Istana Negara, sementara Ibu Ani Yudhoyono terus menerus menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya sebagai Ibu Negara.

Demi untuk menutupi kasus WikiLeaks agar dilupakan masyarakat dan tidak menjadi pemberitaan media cetak maupun elektronik yang dikhawatirkan akan menjurus pada gerakan impeachment dari DPR, maka digelarlah operasi intelijen. Operasi Intelijen dilakukan dengan mengirimkan bom buku dan bom paket yang ditujukan kepada para tokoh yang selama ini menjadi musuh umat Islam seperti ‘dedengkot’ JIL, Ulil Absar Abdalla dan mantan Komandan Densus 88, Komjen (Pol) Gories Mere. Selain itu bom juga dikirimkan kepada tokoh yang memiliki massa yang sekiranya bisa diadudomba dengan massa ormas Islam seperti Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto Suryosumarno dan pentolan Manajemen ‘Republik Cinta’, Ahmad Dhani. Keempat tokoh tersebut semuanya selamat kecuali seorang polisi yang lagi apes nasibnya sehingga mengalami luka cukup serius, ketika nekat membuka bom buku yang ditujukan kepada si bibir seksi Ulil Absar Abdalla di KBR 68 H Utan Kayu, Jakarta Timur.

Namun yang mencurigakan, biasanya Densus 88 dan aparat keamanan lainnya begitu sigap cepat dan kerja keras ketika terjadi peledakan bom. Tetapi untuk kasus bom buku dan bom paket kali ini, aparat keamanan terlihat bekerja setengah-setengah dan sangat santai, sehingga memasuki minggu kedua belum ada satu pun tersangka yang berhasil ditangkap. Hal inilah yang menimbulkan analisis bahwa sesungguhnya bom buku hasil operasi intelijen oleh aparat keamanan. Selain untuk menutupi kasus WikiLeaks demi menyelamatkan muka SBY, juga ditujukan untuk menfitnah ormas-ormas Islam garis keras yang akhirnya menjurus pada pembubaran dan mendiskreditkan umat Islam Indonesia secara keseluruhan.

Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan pengamat politik, militer dan intelijen sekaligus mantan perwira intelijen Kodam III Siliwangi, Kol (Purn) H Y Herman Ibrahim seputar bocoran kawat diplomatik Kedubes AS oleh WikiLeaks dan sejumlah operasi intelijen dari waktu ke waktu yang ditujukan untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia.

SUARA ISLAM: Mengapa kawat diplomatik Kedubes AS yang dibocorkan WikiLeaks mengenai Yudhoyono Abused Power, sengaja dibuka koran Australia The Age dan The Sydney Morning Herald ketika Wapres Boediono berkunjung ke sana?

Herman Ibrahim: Tidak sulit untuk menjelaskan mengapa media Australia memuat bocoran WikiLeaks saat kunjungan Wapres Boediono ke Canbera, Australia. Masyarakat media akan sangat faham bahwa isu politik atau apa pun tentang negara akan memiliki magnitude yang tinggi jika dilansir pada saat kunjungan kenegaraan.

Saya menduga bahwa lontaran isu itu sudah lama dipersiapkan, bukankah WiliLeaks sudah memberi warning bahwa ada ribuan informasi tentang Indonesia yang akan dilempar ke publik pada saatnya yang tepat.

Adalah menarik untuk membahas motif WikiLeaks menebar isu tak sedap dari bocoran kawat ke Dubes AS di seluruh dunia itu. Paling tidak ada tiga alasan mengapa WikiLeaks melakukan intersepsi diplomatic cable.

Pertama, bisa jadi hal ini berawal dari keisengan seorang hacker yang melakukan pengembaraan hacking sehingga masuk ke wilayah sensitif dan berpeluang menjadi sesuatu yang memiliki nilai informasi yang tinggi.

Kedua, yang paling mungkin dan banyak dipersepsi orang adalah WikiLeaks menerima bocoran gratis dari pihak Kedubes untuk melempar informasi panas, semacam lempar batu sembunyi tangan. Motifnya jelas politik untuk menekan pemerintahan negara-negara tertentu.

Ketiga, WikiLeaks bekerja sama dengan orang dalam melakukan black mail dengan motif bisnis. Namun, kecenderungan ini tidak terbukti karena jika ya, maka Julian Assange akan menjadi buronan internasional. Faktanya adalah bos WikiLeaks Julian Assange dibebaskan dari tahanan, karenanya motif kedua adalah paling mungkin terjadi.

SUARA ISLAM: Apakah karena The Age dan The Sydney Morning Herald termasuk koran berhaluan kiri di Australia?

Herman Ibrahim: Ihwal koran The Age dan The Sidney Morning Herald apakah keduanya berhaluan kiri, saya melihat tak ada kaitannya dengan pembocoran rahasia kawat ke Dubes AS di Indonesia. Yang pasti kedua koran itu adalah koran terkemuka dan memiliki market ke seluruh dunia. Saya tidak melihat haluan koran, melainkan membaca hal ini ada pada posisi geopolitik Australia yang selalu menganggap Indonesia sebagai ancaman. Siapapun Perdana Menteri Ausie apakah dari Partai Konservatif atau Partai Buruh, saya kira akan berupaya mendemoralisasi pemerintahan Indonesia.

SUARA ISLAM: Jika bocoran WikiLeaks ternyata benar, apakah bisa menyebabkan pemakzulan terhadap Presiden SBY karena menyalahgunakan kekuasaan?

Herman Ibrahim: Bagi Indonesia dan repotnya di dalam negeri sendiri, masyarakat cenderung lebih percaya kepada media asing daripada klarifikasi pemerintah. (lihat survei Harian Republika, di mana dikatakan 73 persen rakyat Indonesia percaya kepada informasi bahwa SBY telah melakukan Abuse of Power sesuai bocoran WikiLeaks).

Meski demikian, bocoran WikiLeaks tidak akan menjadi sebuah bola salju untuk pemakzulan Presiden SBY. Pasalnya meski 73 persen rakyat Indonesia percaya atas bocoran WikiLeaks, tetapi suara rakyat kan tidak terepresentasi di Parlemen. Kita tahu, suara Setgab adalah suara mayoritas yang akan mempertahankan SBY sampai 2014. Sementara people power tidak memiliki kekuatan leadhership dan sumber daya gerakan.

SUARA ISLAM: Institusi manakah yang paling tepat untuk menindaklanjuti laporan WikiLeaks, apakah DPR, KPK, Polri atau Kejagung?

Herman Ibrahim: Penjelasan di atas akan memperkuat alasan bahwa tidak ada lembaga negara apapun yang akan merespon apalagi menindaklanjuti informasi WikiLeaks. Tentu saja, jika KPK memiliki keberanian moral dan dukungan total rakyat Indonesia, maka lembaga inilah yang paling tepat menindaklanjuti laporan WikiLeaks.

SUARA ISLAM: Kalau selama ini SBY dikenal sahabat AS, mengapa Kedubes AS di Jakarta justru membuka aib SBY?

Herman Ibrahim: Reaksi masyarakat akan merupakan ”test the water” bagi AS, apakah SBY masih layak dipertahankan atau siapa pemimpin yang layak dan harus dispot oleh CIA untuk menjadi Presiden RI pada 2014 nanti. Itulah sebabnya saya kira mengapa kendati pun SBY dikenal sahabat AS, namun Kedubes AS terkesan justru membuka aib SBY.

SUARA ISLAM: Apakah pemerintah AS mulai kurang respek terhadap pemerintahan SBY?

Herman Ibrahim: Dalam beberapa kasus, nampaknya ada beberapa hal yang membuat AS tidak begitu respek terhadap SBY. Pertama, SBY dinilai lemah dan lambat dalam pengambilan keputusan dan banyak melakukan tawar menawar politik dengan oposisi maupun dengan rekan-rekannya di Setgab.

Kedua, SBY terlalu memberi ruang dan memanjakan China baik dalam hubungan dagang maupun dalam konteks politik kawasan. Dalam hubungan dagang misalnya, bagaimana Menperindag Marie Elka Pangestu menerbitkan Permen No. 30 Tahun 2010 yang menguntungkan China tatkala barang impor diijinkan masuk ke Indonesia.

Ketiga, SBY kurang berani menumpas atau membubarkan ormas-ormas Islam garis keras seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin (MM) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). SBY juga lemah dan cenderung membiarkan konflik sosial keagamaan menyangkut kehendak AS untuk membela eksistensi Ahmadiyah.

SUARA ISLAM: Apakah SBY tidak bisa diharapkan lagi oleh pemerintahan Presiden Obama untuk mendukung policy luar negeri AS terutama di kawasan Asia?

Herman Ibrahim: Dari penjelasan di atas tentang politik kawasan segera dapat ditemukan jawaban, bahwa politik luar negeri Indonesia di Asia tidak sepenuhnya menyenangkan AS. Kendati pun produk perundang-undangan Indonesia banyak memuaskan Barat (AS) namun dalam politik luar negeri Indonesia sangat menghitung eksistensi China. Saya ambil contoh, Indonesia tidak terdengar mengutuk serangan artileri Korut terhadap Korsel, sementara atas tekanan umat Islam Indonesia turut mengecam serangan Israel ke Jalur Gaza.

SUARA ISLAM: Apakah ini merupakan indikasi AS akan menjadikan nasib Presiden SBY seperti Presiden Mubarak dan Presiden Ben Ali?

Herman Ibrahim: Pada posisi seperti itu, nampaknya AS menghendaki agar Presiden Indonesia ke depan lebih total mendukung kebijakan AS di kawasan Asia. Maka tekanan-tekanan politik mulai dilakukan sejak dini, sehingga pada 2014 nanti Amerika tidak kecolongan tentang siapa Presiden Indonesia yang layak untuk di support. Tentu saja Capres Indonesia yang akan datang pun harus melihat ini, tanpa dukungan dan tanpa komitmen kepada AS jangan harap dia akan berhasil terpilih jadi Presiden RI. Tetapi berbagai tekanan politik AS tersebut masih jauh atau paling tidak tak akan sampai mendorong rakyat Indonesia untuk menjadikan nasib SBY seperti Mubarak dan Ben Ali.

SUARA ISLAM: Apakah munculnya kasus teror bom buku disengaja untuk mengalihkan perhatian dari kasus bocoran WikiLeaks?

Herman Ibrahim: Adapun yang ganjil adalah pasca isu WikiLeaks yang sangat memojokkan SBY bahkan Ibu Negara Ani Yudhoyono, lantas muncul kasus teror bom buku. Saya ingin negara membuktikan kepada rakyat Indonesia bahwa teror bom buku bukanlah bagian dari operasi Intelijen penggalangan untuk memunculkan isu baru yang tidak prinsip, tetapi justru menghilangkan isu lama yang sangat penting dan menentukan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini.

SUARA ISLAM: Menurut anda, apakah bom buku bagian dari operasi intelijen untuk mendiskreditkan umat Islam sebagaimana yang terbukti dalam kasus Ahmadiyah Cikeusik Pandeglang Banten dan kasus lainnya termasuk terorisme?

Herman Ibrahim: Operasi Intelijen penggalangan dengan cara menarik turun elemen-elemen Negara Islam Indonesia (NII), kemudian didorong melakukan tindak kriminal seperti perampokan dan pembajakan pesawat, adalah pola-pola lama untuk menghancurkan Islam. Saya kira teror bom buku mirip-mirip model operasi intelijen penggalangan. Sayang Opsus model ini kurang bermutu dan mudah dibaca.

SUARA ISLAM: Mengapa sejak BAKIN dipimpin Ali Moertopo hingga BIN dipimpin AM Hendro Priyono, umat Islam selalu menjadi sasaran operasi intelijen?

Herman Ibrahim: Dulu umat Islam sukses membantu penumpasan PKI. Kemudian intelijen AS sengaja membuat gerakan NII untuk menyudutkan umat Islam. Kemudian pemerintah membuat Operasi Khusus (Opsus). Jadi sesungguhnya intelijen sangat berjasa dalam mendirikan gerakan NII. Kemudian muncul Asas Tunggal Pancasila dan umat Islam menolaknya.

Adapun yang menjadi korban operasi intelijen diantaranya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Kita tahu sejak dulu Ustadz Abu tidak pernah mau menerima Pancasila. Pada zaman Orba, Ustadz Abu pernah ditangkap dan dihukum 4 tahun penjara. Ketika dibebaskan sementara dan keputusan MA keluar kemudian harus dihukum 9 tahun, maka Ustadz Abu bersama almarhum Ustadz Abdullah Sungkar hijrah ke Malaysia dan baru kembali tahun 1999 lalu.

Memang selama ini umat Islam selalu gagal memperjuangkan penerapan Syariah Islam di Indonesia, sehingga memicu sebagian dari mereka untuk memperjuangkannya dengan caranya sendiri. Tetapi kemudian dimanfaatkan oleh intelijen dengan membentuk Komando Jihad, Teror Warman, Kelompok Imron dan sebagainya. Semua ini rancangan intelijen Opsus untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia.

SUARA ISLAM: Dalam kasus WikiLeaks, mengapa Presiden SBY tidak menindak TB Silalahi sebagai penasehat dan Agung Laksono anggota kabinet karena membocorkan rahasia Istana ke Kedubes AS?

Herman Ibrahim: Saya kira salah alamat mempertanyakan mengapa TB Silalahi dan Agung Laksono tidak ditindak oleh SBY, seharusnya antum tanyakan hal itu kepada SBY. Satu hal yang ingin saya katakan, antara pahlawan dan pengkhianat sangat tipis bedanya, tergantung siapa yang memanfaatkan dan tergantung pula pada persepsi politik masyarakat. Kendati persepsi politik masyarakat buruk terhadap seseorang, tetapi jika penguasa menganggap TB Silalahi berjasa dan Agung Laksono juga sangat penting dan memiliki daya tawar politik kuat, ya tak akan terjadi penangkapan mereka itu.

SUARA ISLAM: Mengapa ormas-ormas Islam selalu dijadikan sasaran fitnah pasca terjadinya teror bom buku, seperti statement Kepala BNPT Ansyaad Mbai dan mantan Kepala BIN AM Hendro Priyono, di mana dikatakan pelakunya alumni Poso dan Ambon yang ingin mendirikan Negara Islam atau Daulah Islamiyah?

Herman Ibrahim: Dulu Ali Moertopo menjalankan Opsus sebagai upaya menciptakan kondisi yang sesuai dengan pesanan Barat, yakni setelah Indonesia berhasil sukses membasmi PKI, maka Indonesia diminta untuk menumpas sisa-sisa NII dan DI-TII.

Pada kasus Bom Buku, saya kira orang yang memusuhi Islam tidak perlu dipercaya kata-katanya karena yang ada hanya fitnah belaka. Hendro Priyono dan Ansyaad Mbai akan ditanya di akhirat kelak, apa yang salah dengan upaya mendirikan Negara Islam dan menegakkan Hukum Allah di muka bumi? Bukankah itu perintah Allah dalam Al Qur’an ? Kecuali mereka tak percaya Al Qur’an. Jazakumullah Khoiron Katsiiro.

(Abdul Halim)

0 komentar:

Poskan Komentar